Jumat, 14 Januari 2011

Sosok laksamana raja di laot

              Situs bersejarah Kabupaten Bengkalis di kecamatan Bukit Batu berupa kediaman Datuk Laksamana dari Raja Dilaut, Masjid Jami Al Haq serta makam para keluarga Datuk Laksamana dari Kerajaan Siak Sri Inderapura, hingga kini terabaikan dan tidak terawat.

Berdasarkan pengamatan lapangan akhir pekan lalu, kampung tempat kediaman pembesar Siak Sri Inderapura itu kini tidak lagi menunjukkan bahwa di sana dulunya bekas pemerintahan seorang raja yang sangat berkuasa di laut dan ditakuti bangsa asing yang ingin menguasai kerajaan Melayu Siak Sri Inderapura karena sudah berupa semak belukar.

Pusat pemerintahan Datuk Laksamana tersebut meski banyak ditumbuhi pohon kelapa kini sunyi dari penduduk dan rimbun dengan semak belukar.


"Dulu perkampungan di sini ramai, tidak hanya dihuni para warga Melayu, tapi juga orang Cina, namun saat ini telah menjadi kampung tak bertuan," kata seorang warga Bukit Batu yang juga keturunan Datuk Laksamana, Abdul Hamid mansyur (60).



Pegawai Pembantu Pencatat Nikah (P3N) desa Bukit Batu itu mengatakan, meski tempat kediaman Datuk Laksamana berupa rumah tradisional Melayu, telah direhab, begitu juga beberapa makam Datuk Laksamana, namun tetap telantar.

Rumah berarsitektur Melayu yang memiliki tiang penyangga tinggi hingga kolongnya bisa menjadi tempat bermain anak-anak dan dilalui orang dewasa itu, dalam keadaan kosong dan halamannya ditumbuhi semak.

Begitu juga makam Datuk Laksamana Kelima, meski telah dibuat jalan bersemen dan makamnya direhab, namun tetap saja dipenuhi semak belukar..

Pemandangan serupa juga terlihat di Masjid Jami Al Haq, yang merupakan masjid tertua di Bengkalis dan dua makam Datuk Laksamana.

Datuk Laksamana merupakan pembesar kerajaan Siak yang semula bermukim di Bengkalis, kemudian memindahkan lokasi pemerintahannya ke Bukit Batu.

Dalam sejarahnya, Datuk Laksamana merupakan keturunan Bugis, dimana Daeng Tuagik, anak dari Sultan Wajok yang kawin dengan anak Datuk Bandar Bengkalis, Encik Mas (seorang perempuan yang berkuasa di pulau Bengkalis).

Daeng Tuagik ketika menikahi Encik Mas telah berjanji untuk tidak memakai gelar Bangsawan Bugis bagi keturunannya. Dari perkawinannya ia mendapat seorang anak yang bernama Datuk Bandar Jamal (1720-1767) yang kelak menggantikan ibunya sebagai penguasa Bengkalis.

Gelar Datuk Laksamana Raja Dilaut baru diberikan Sultan Siak kepada Encik Ibrahim, anak dari Datuk Jamal serta tiga orang keturunannya, yang terakhir Encik Ali Akbar (1908-1928).

Sumber : 
- Gatra.com, Situs Bersejarah di Bengkalis 
- Yahoo Group Budaya Tionghoa & Sejarah Tiongkok

Artikel Terkait:

6 komentar:

Dhana/戴安娜 mengatakan...

salam sahabat
baru tahu istilah yang ada di postingan juga asing dalam pandangan saya makasih infonya yach maaf telat

wa'alaikumsalam wr.wb njawab salam anda

nday mengatakan...

"salam sahabat juga buat mbak Dhana yg baik hati...!!
di maklumi jg mbak,,karna jauh amat..
tp itulah sdikit dr sejrah lm,,
trim"s mbak dhana,,,,

NIT NOT mengatakan...

ada pictnya gak... biar bisa lebih menghayati gitu...heheee..tapi udah informatif kuk... salam blog...

attayaya_angka mengatakan...

lha jadi laksamana raja di laut itu merupakan keturunan bugis ya

villa yasmin mengatakan...

Salam kenal sahabat, terima kasih atas ceritanya tentang laksamana raja dilaot sejarah yang dapat mengingatkan kita pada sejarah yang tidak dapat kita lalui dulu karena belum lahir dan kini hanyalah kenangan saja.

nday mengatakan...

>@nit not..terimakasih akan di usahakan demi kemajuan blog sderhana ini.

>@bang atta..iya,tapi nikah bersama anak keturunan melayu.

>@villa yasmin..slam sahbat kembali,terim"s udah mampir kesini,semoga betah ya,,